Assalamu alaikum . . .
Bagaimana cara melakukan ghusl atau mandi junub dalam islam?

Mandi menjadi wajib hukumnya bagi seorang muslim baik laki-laki maupun perempuan ketika seorang muslim mempunyai hadats besar.

Dalam melakukan mandi janabah ada dua rukun yang harus dilakukan:

  1. Niat
    Yaitu meniatkan dalam hati hendak melakukan mandi janabah. Tidak perlu dilafalkan dengan lisan.
    Fungsi niat ini untuk membedakan kebiasan dan ibadah.

    Lapadz niat mandi janabah:

    نويت غسل لرفع الحدث الاكبر عن جميع البدن فرض لله تعالى

    Nawaetu gusla lirofi’l hadatsil akbari a’n jamii’l badani pardhul lillahi taala

    “Aku berniat mandi untuk mengilangkan hadats besar pada seluruh (anggota) badan, pardhu karena allah”

  2. Meratakan air keseluruh badan
  3. Meratakan air dari ujung kepala sampai telapak kaki. Pastikan tidak ada bagian yang tidak terbasahi oleh air. Misal ada cat atau zat serta benda apapun yang menempel pada kulit, dan itu menghalangi air membasahi kulit maka harus dihilangkan terlebih dahulu.

Adapun tatacara mandi yang disunnahkan oleh Rosulullah SAW ialah sebagai berikut:

  1. Berniat mandi wajib dan membaca bissmillah;
  2. Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali;
  3. Membersihkan area pribadi (kemaluan) dan kotoran yang ada dengan tangan kiri;
  4. Mencuci tangan setelah membersihkan area pribadi dengan cara menggosokan ketanah atau dengan sabun;
  5. Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti hendak sholat;
  6. Mengguyur kepala sebanyak 3 kali sampai pangkal rambut;
  7. Mencuci kepala bagian kanan, kemudian disusul bagian kiri;
  8. Menyela-nyela (menyilang-nyilang) rambut dengan jari;
  9. Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi kanan kemudian sisi kiri;
  10. Mencuci kaki.

Untuk para wanita tata cara mandi janabah sama seperti diatas, dengan ada tambahan sebagai berikut:

  1. Menggunakan sabun dan pembersih lainnya beserta air;
  2. Melepas kepang rambut, agar air mengenai pangkal rambut;
  3. Ketika mandi setelah masa haidh disunnahkan membawa kapas atau sejenisnya guna mengusap tempat keluarnya darah dan membersihkan sisa-sisanya.
  4. Ketika mandi setelah masa haidh, disunnahkan juga mengusap bekas darah pada area pribadi dengan minyak kesturi atau farfum sejenisnya, guna menghilangkan bau yang tidak enak akibat bekas darah haidh.

Berikut hadits-hadits
tentang mandi janabah:

Dari ‘Aisyah, isteri Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam,
bahwa jika Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam mandi
junub, beliau memulainya
dengan mencuci kedua telapak tangannya.
Kemudian beliau berwudhu
sebagaimana wudhu untuk
shalat. Lalu beliau
memasukkan jari jarinya ke
dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit
kepalanya, kemudian
menyiramkan air ke atas
kepalanya dengan cidukan
kedua telapak tangannya
sebanyak tiga kali, kemudian beliau
mengalirkan air ke seluruh
kulitnya.”
(HR. Bukhari no.
248 dan Muslim no. 316)

Dari Ibnu ‘Abbas berkata
bahwa Maimunah
mengatakan, “Aku pernah
menyediakan air mandi
untuk Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Lalu beliau menuangkan air pada kedua
tangannya dan mencuci
keduanya dua kali dua kali
atau tiga kali. Lalu dengan
tangan kanannya beliau
menuangkan air pada telapak tangan kirinya,
kemudian beliau mencuci
kemaluannya. Setelah itu
beliau menggosokkan
tangannya ke tanah.
Kemudian beliau berkumur- kumur dan memasukkan air
ke dalam hidung. Lalu beliau
membasuh muka dan kedua
tangannya. Kemudian beliau
membasuh kepalanya tiga
kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu beliau
bergeser dari posisi semula
lalu mencuci kedua telapak
kakinya (di tempat yang
berbeda).”
(HR. Bukhari no.
265 dan Muslim no. 317)

Dari Aisyah RA, “Jika
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam mandi junub,
beliau mencuci tangannya
dan berwudhu sebagaimana
wudhu untuk shalat. Kemudian beliau mandi
dengan menggosok-
gosokkan tangannya ke
rambut kepalanya hingga
bila telah yakin merata
mengenai dasar kulit kepalanya, beliau
mengguyurkan air ke
atasnya tiga kali. Lalu beliau
membasuh badan
lainnya.”
(HR. Bukhari no.
272)

Wallaahu a’lamu bishshowwaab