Bismillahirrohmanirrohiem

Thaharah menurut bahasa berarti suci atau bersih, sedangkan menurut istilah ialah membersihkan atau mensucikan diri dari hadats najis dan kotoran.
Pada umumnya kita melakukan thaharah (wudhu, mandi janabah, membersihkan najis) ialah dengan menggunakan air.
Para ulama sepakat membagi jenis air ini menjadi 4 kategori diantaranya:

  1. Air suci dan mensucikan (air muthlaq)

    Dalam istilah fiqih air ini sering disebut “thahirun linafsihi muthatohhirun lighoirihi” artinya suci zatnya dan mensucikan bagi zat laing.

    Air suci itu banyak macamnya, namun tidak semua air suci dapat mensucikan. Umpama kita berwudhu menggunakan air kelapa, membersihkan ompol bayi dengan air kopi atau teh, kedua jenis air diatas tadi termasuk air suci, tapi keduanya tidak mensucikan.

    Adapun jenis air yang termasuk dalam kategori ini diantaranya:

    1. Air hujan
      Tentang sucinya air hujan dan fungsinya dalam mensucikan, disebutkan dalam Al-Quran:

      “Ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki.”
      (QS. Al- Anfal : 11)

      “Dia lah yang meniupka angin pembawa kaba gembira dekat sebelu kedatangan rahmat-nya;
      dan Kami turunkan dari
      langit air yang amat bersih.”
      (QS. Al-Furqan : 48)

    2. Salju
      Seorang muslim bisa menggunakan salju untuk berthaharoh. Ini sesuai dengan hadits rosulullah yang menjelaskan tentang kedudukan salju, kesuciannya, serta fungsinya untuk mengsucikan:

      Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya bacaan apa yang diucapkannya antara takbir dan al-fatihah, beliau menjawab, `Aku membaca, `Allahumma Ba`id Baini Wa Baina Khathaya Kamaa Baa`adta Bainal Masyriqi Wal Maghrib. Allahumma Naqqini min Khathayaa Kamaa Yunaqqats Tsaubal Abyadhu Minad-danas. Allahumma aghsilni min Khathayaaya Bits-tsalji Wal Ma`i Wal Barad.(HR. Bukhar 744, Muslim 597, Abu Daud 781 dan Nasai 60)

      Artinya :
      Ya Allah, Jauhkan aku dari kesalahn-kesalahanku sebagaiman Engkau menjauhkan antar Timur dan Barat. Ya Allah, sucikan aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaiman pakaian dibersihkan dar kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan salju air dan embun.

    3. Embun
      Hukum kesucian fungsinya untuk mensucikan telah dijelaskan pada hadits diatas.
      Umpama kita sedang berkemping disebuah gunung. Kemudian kita hendak melakukan sholat shubuh, kemudian kita tidak memperoleh air. Tentulah embun2 pada dedaunan yang ada disekiling bisa kita gunakan untuk berwudhu.
    4. Air laut
      Air laut adalah air yang suci dan mensucikan.
      Rosulullah pernah bersabda:

      Dari Abi Hurairah ra bahwa ada seorang bertanya kepada Rasulullah SAW, `Ya Rasulullah, kami mengaruhi lautan dan hanya membawa sedikit air. Kalau kami gunakan untuk berwudhu, pastilah kami kehausan. Bolehkah kami berwudhu dengan air laut?`. Rasulullah SAW menjawab, `(Laut) itu suci airnya dan halal bangkainya.
      (HR. Abu Daud 83, At-Tirmizi 79, Ibnu Majah 386, An-Nasai 59, Malik 1/22).

    5. Air zam-zam
      Air zam-zam ialah air yang besumber dari mata air yang tak pernah kering. Air zam-zam terletak beberapa meter dari ka’bah.
      Tentang kesucian dan fungsinya untuk berthaharah, dicontohkan oleh Rosulullah SAW:

      Dari Ali bin Abi thali ra bahwa Rasululla SAW meminta seember penuh air zam-zam. Beliau meminumnya dan juga menggunakannya untuk berwudhu`.

      (HR. Ahmad).

    6. Air sumur (mata air)
      Air sumur atau mata termasuk pada kategori air yang suci dan mensucikan. Kita bisa memanfaatkan air ini untuk mewudhu, mandi, membersihkan najis dan lainnya.
      Dalil tentang sucinya air sumur atau mata air ini adalah hadits tentang sumur budho’ah yang terletak dikota madinah.

      Dari Abi Said Al-Khudhri ra berkata bahwa seorang bertanya, `Ya Rasulullah, Apakah kami boleh berwudhu` dari sumur Budho`ah?, padahal sumur itu yang digunakan oleh wanita yang haidh, dibuang ke dalamnya daging anjing dan benda yang busuk. Rasulullah SAW menjawab,`Air itu suci dan tidak dinajiskan oleh sesuatu`.
      (HR. Abu Daud 66, At-Tirmizy 66, An-Nasai 325, Ahmad3/31-87, Al-Imam Asy-Syafi`i 35).

    7. Air sungai
      Kedudukan air sungai itu suci, karena dianggap sama karakternya dengan air sumur atau mata air.
      Namun satu catatan air sungai dahulu berbeda dengan air sungai sekarang. Kita kerap kali melihat sungai-sungai dijadikan pembuangan limbah industri. Memang barang kali limbah ini hukumnya tidak najis, tapi sangat beresiko bagi kesehatan.
      Maka sebaiknya kita jangan menggunakan air itu karena memiliki madhorot yang sangat besar. Sebab, meskipun jumlah airnya berar, tapi seiring dengan proses pencemaran bisa jadi lama kelamaan warna, rasa, dan bau airnya berubah, sehingga thaharah yang kita lakukan dengan air itu menjadi tidak syah.
  2. Air suci tapi tidak mensucikan (musta’mal)
    Jenis yang kedua dari pembagian air menurut kacamata fiqih ialah air yang suci dalam arti tidak najis, boleh diminum, membersihkan kotoran fisik pada tubuh, tapi tidak mensucikan untuk berthaharah.
    Para ulama sering menyebut air ini dengan istilah air musta’mal, artinya air yang sudah digunakan untuk besuci secara ritual, misalkan untuk berwudhu, mandi janabah, dan mencuci najis.
    Sedangkan air yang digunakan diluar berthaharah, seperti mencuci tangan, dan mandi biasa tidak dikategorikan sebagai air yang telah digunakan (air musta’mal)

    Batasan volume air
    Para ulama membedakan air musta’mal dan ghairu musta’mal dengan menggunakan batasan volume air.
    Fungsinya sebagai batas minimal untuk bisa dikatakan air menjadi musta’mal. Sedangkan jika air melebihi dari batas yang telah ditentukan, maka air kemungkinan terbebas dari kondisi musta’mal.

    Batasan volume air yang digunakan adalah 2 qullah. Istilah ini memang terasa sangat asing. Namun, jika kita konversikan kedalam ukuran liter kira-kira sekitar 270 liter air.

    Jadi, jika kita berthaharah menggunakan air yang melebihi 270 liter air itu terbebas dari kategori musta’mal. Namun sebaliknya, jika volumenya kurang dari 270 liter, air tersebut sudah termasuk kategori musta’mal. Dan tidak sah jika digunakan untuk berthaharah lagi.

  3. Air yang bercampur dengan barang yang suci
    Jenis kategori air yang ketiga adalah air yang bercampur dengan barang yang suci, atau bukan najis hukumnya tetap suci.
    Seperti air yang bercampur dengan kapur barus, sabun, dan sebagainya selama sifat air masih melekat padanya. Namun jika berubah dari kriteria airnya ia tetap suci tapi tidak mensucikan.
    Tentang kapur barus ada hadits yang menyebutkan bahwa Rosulullah SAW memerintahkan kita memandikan jenazah dengan menggunakannya

    Dari Ummi Athiyyah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Mandikanlah dia tiga kali, lima kali atau lebih banyak dari itu dengan air sidr (bidara) dan jadikanlah yang paling akhir air kapur barus.
    (HR. Bukhari 1258, Muslim 939, Abu Daud 3142, Tirmizy 990, An-Nasai 1880 dan Ibnu Majah 1458).

    Dan jenazah itu tidak dimandikan kecuali dengan air yang suci dan mensucikan, sehingga air kapur dan sidr itu hukumnya suci dan mensucikan.
    Sedangkan air yang bercampur dengan tepung, ada hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Hanni’

    Dari Ummu Hani` bahwa Rasulullah SAW mandi bersama Maimunah ra dari satu wadah yang sama, tempat yang merupakan sisa dari tepung.
    (HR. Nasai 240, Ibnu Khuzaimah 240)

  4. Air yang bercampur dengan barang najis (muttanajis)
    Air yang bercampur dengan barang najis itu mempunyai dua kemungkinan hukum. Yaitu antara air itu berubah atau tidak berubah setelah tercampur dengan barang najis. Kriteria perubahan terletak pada bau, rasa, dan warna air.

    1. Jika berubah bau, rasa dan warnanya
      Jika air itu berubah bau, rasa dan warnanya, maka hukum air tersebut menjadi najis. Hal ini disebutkan oleh Ibnul Munzir dan Ibnul Mulaqqin.
    2. Jika tidak berubah bau, rasa, dan warnanya
      Sebaliknya, jika ketiga kriteria diatas tidak berubah, maka hukum airnya tetap suci mensucikan baik sedikit ataupun banyak.

Wallaahu a’lamu bish shawwab

About these ads